Showing posts with label seri. Show all posts

Apimu, Udaraku (1)

Kau adalah api. Aku telah tahu itu. Lidahmu panas membakar, tubuhmu merah merekah bergerak bebas ke segala arah.

Aku tak bisa menggenggam dirimu. Aku telah tahu itu. Karena kau akan membakarku habis menyisakan jelaga jika aku menyentuhmu terlalu lama.

Kau adalah api yang berjuang. Aku juga tahu itu.

Kau berjuang keras untuk terus membakar, untuk terus hidup agar hujan tak menjadikanmu padam.
Namun mengetahui tidak mampu merubah diriku menjadi api.

Karena aku adalah udara.

Kebersamaan di antara kita adalah dirimu membakarku hidup-hidup.

Membakar, merasakan panas itu mengonsumsi tubuhku. Memenuhi paru-paruku dengan asap yang mencekik.

Membuatku jatuh dan menggelepar, meringkuk dan terbatuk.


Mencintaimu adalah memberikan nyawaku.

Cerita dari Negeri Kinara - Ayah

Sesungguhnya, ayahku adalah entitas asing.

Aku tidak terlalu mengenalnya saat aku kecil, tapi aku tahu ia adalah ayahku dan semua orang telah mengajarkan begitu: keluarga adalah orang yang paling dekat denganmu.

Tapi aku tidak dekat dengannya.

Maka ayahku adalah karakter yang asing bagiku, seseorang yang aku pahami sebagai keluarga, tapi tidak aku kenali sebagai keluarga. Aku membangun karakternya berdasarkan cerita-cerita yang aku dengar di sekitarku.

Karena aku tidak benar-benar melihatnya.

Ia pekerja keras. Itu yang aku dengar. Jika aku tidak mendengarnya sedang bekerja, maka aku melihatnya sedang bekerja. Jika aku mengingatnya hal pertama yang terbayang adalah dia di belakang meja kerja dengan suara musik rock klasik mengiringi. Ia akan ikut menyanyi sekali-sekali.

Ia punya ruang kerja sendiri di rumah, ruang yang terlarang untuk anak-anak. Karena anak kecil jarang mengerti hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan, maka ruang itu menjadi terlarang sekalian.

Tapi kadang, pintunya terbuka sebagian. Dan aku bisa melihatnya di belakang meja kerja di kelilingi kertas-kertas dengan suara musik terdengar keras.

Ia jarang melihat ke arahku.

Tapi ia adalah entitas asing yang merupakan ayahku. Maka aku sering penasaran dengannya dan mengintip takut-takut jika ruang kerjanya terbuka sedikit.

Pernah suatu hari, barangkali aku sedang nakal atau berani, aku masuk ke ruangannya saat ia sedang bekerja. Ia tidak marah dan menyuruhku keluar, biasanya ibuku yang melakukannya jika ia melihatku katanya, “jangan ganggu ayahmu bekerja.”

Seolah aku pengganggu.

Maka aku masuk ke ruangannya dan mendekat ke meja kerjanya. Aku ingin tahu apa yang sedang ia kerjakan hingga tubuhku menempel rapat dengan meja, lalu aku merasakan sesuatu di dadaku terasa menyengat. Aku menarik tubuhku dan menyadari ada lubang terbakar di baju bagian dadaku, ada rokok yang diletakkan di pinggir meja dan aku tidak melihatnya.

Aku menangis keras dan ayahku baru teralihkan perhatiannya kepadaku. Ia butuh cukup waktu untuk menyadari apa yang terjadi sebelum membawaku keluar ruang kerja untuk diobati.

Barangkali itu kali terakhir aku masuk ruang kerjanya.

Tapi sesungguhnya, aku senang dengan ayahku. Kadang, pada minggu pagi yang jarang terjadi, ayahku mengajak kami sekeluarga untuk pergi ke kolam renang umum. Aku hanya ingat, di kolam untuk anak-anak ada gambar ikan paus besar di lantai keramik. Jantungku berdebar keras setiap kali berenang melintas. Aku percaya paus itu sedang mengejarku dari bawah dan siap memakan kakiku yang berkecipuk. Aku berenang dengan sangat cepat agar tidak terkejar paus pemakan anak-anak.

Ayahku akan kemudian tersenyum lebar hingga dua baris giginya terlihat, katanya, “kamu hebat, bisa berenang dengan cepat.”

Aku barangkali merasa senang dipuji. Aku tetap berenang bersama paus pemakan anak-anak walaupun sebenarnya aku takut setengah mati.

Atau suatu waktu yang lain, saat Ibu pergi bersama teman-temannya dan tidak pulang-pulang hingga malam. Aku dan adik-adikku mengadu lapar pada Ayah. Ia kemudian akan membuka isi lemari dan memasak nasi goreng untuk kami semua makan langsung dari penggorengannya. Kapan pun aku mengingatnya, nasi goreng buatannya adalah yang terenak yang pernah aku coba. Walaupun seesungguhnya itu hanya nasi kecap dengan segala isi kulkas dari udang sampai bayam.

Tapi ayahku saat aku kecil adalah potongan-potongan yang jarang.

Ia adalah orang asing yang menyenangkan saat sekali-sekali dunia kami bersentuhan.


Cerita dari Negeri Kinara - Pembantu

PEMBANTU

Aku mengenal awal-awal pertumbuhanku dari tangan ke tangan. Tangan tante, tangan tetangga dan tangan pembantu rumah tangga. Ibuku tentu juga ikut mengurusiku, tapi aku adalah satu dari sekian banyak anaknya. Barangkali tangannya yang dua tidak cukup banyak untuk anaknya yang lima.

Ibuku telah mengajarkan padaku, bahwa aku bukanlah seseorang yang tidak tergantikan. Ia sering salah menyebut namaku dengan nama adikku, ia jarang mengajakku bicara karena ia sibuk sendiri, ia membiarkan aku hidup dari tangan ke tangan.

Aku memiliki tante yang masih muda dan baik. Ia hanya tidak terlalu peduli. Jika ibuku meminta bantuannya untuk mengurusku ia akan mengiyakannya dan membawaku mengikuti kegiatannya. Ia sering membawaku ke salon, karena ia perlu ke salon dan ia tidak bisa meninggalkanku. Ia membiarkan aku ditangani oleh orang salon yang merupakan temannya sementara ia membaca majalah sambil rambutnya dimacam-macam. Aku sering di creambath, karena aku akan duduk dengan tenang sementara menikmati rasa dingin-dingin di kepalaku. Saat itu aku belum tahu, bahwa krim yang digunakan berisi hanya bahan-bahan kimia.

Ia akan mengiyakan jika ibuku memintanya menyuapi aku makan. Ia akan membawaku jalan-jalan ke taman dekat rumah dan menyuapiku. Tapi aku adalah anak kecil yang jika dibawa ke taman akan sering terpecah perhatiannya. Maka saat aku tidak kembali untuk minta disuapi, tanteku akan membuang isi piringku ke tempat sampah dan mengantarku pulang sambil berkata kepada ibuku tugasnya sudah selesai. Malamnya aku sering merasa lapar.

Tetanggaku adalah seorang nenek pembuat kue untuk dijual di pasar. Jika aku berada di rumahnya ia akan menjadi sangat galak, karena ia tidak ingin aku membuat berantakan apapun. Kalau aku berani menyentuh kuenya atau bahan-bahan pembuat kue ia akan memukul tanganku dan menyuruhku berdiri di pojok menghadap tembok.

Aku juga punya banyak tetangga yang lain, ada yang selalu terlihat cantik dengan muka berpulas dandanan dan baju yang menurutku seksi. Dia adalah tetanggaku yang baik, ia sering membuatkanku es teh manis karena ia tahu aku menyukainya. Tapi kadang ada lelaki yang akan datang ke rumahnya dan ia akan menyuruhku pulang dulu atau bermain di luar.

Ada yang bekerja di rumah memasukkan roti kering bermargarin ke dalam kantong-kantong plastik bening lalu membakar ujungnya dengan lilin agar rekat. Ia suka membiarkanku memakan sisa roti-roti itu setelah aku membantunya membungkus ke dalam plastik-plastik. Akan ada orang yang akan datang untuk mengambil roti-roti kering itu dan membayarnya dengan uang. Kadang, kalau hatinya sedang baik, ia memberiku uang untukku jajan.

Dan masih banyak yang lain. Ada suasana berbeda di setiap rumah, ada karakter yang berbeda di setiap manusia. Aku menjadi belajar cara agar disukai dan diterima. Karena bagaimanapun, jika ibuku sedang menitipkan aku maka ia antara sedang begitu sibuk atau sedang keluar rumah. Maka jika aku berbuat salah sehingga dipulangkan aku akan menghadapi amarah ibuku.

Tapi aku punya pembantu yang aku begitu sayang padanya aku tidak masalah ia berkutu, aku tetap ingin tidur dengannya. Ibuku akan kemudian marah-marah, menyalahkan kelengketanku pada pembantuku seolah sesuatu yang salah. Tapi aku tumbuh dengannya, ia menidurkanku dipangkuannya sambil pantatku ditepuk-tepuk hingga mataku terasa berat. Ia menyuapiku dan menyisiri rambutku setiap hari. Ia memberikanku baju, mainan atau makanan yang dibelikan untukku sepulangnya ia dari pasar. Ia tidak memarahiku ketika aku nakal melainkan menakuti dengan cerita wayang yang seram-seram. Aku menjadi penurut.

Barangkali anak kecil membuat orang dewasa mudah jatuh sayang. Aku pikir pembantuku telah sayang padaku, karena kadang ia menidurkan aku sambil menggumamkan lagu lembut dan mengelus pucuk kepalaku. Menyingkirkan rambut yang menutupi wajahku agar tidak mengganggu.

Tapi kemudian, ia pulang kampung untuk menikah dan tidak kembali lagi padaku. Barangkali aku merajuk sampai seminggu, karena Ibuku tidak tahu bagaimana cara mengurusku seperti pembantuku melakukannya.

Lalu datanglah pembantu baru. Ia mengurusiku, bertahan saat aku memperlakukannya dengan menyebalkan (karena aku tidak mau pembantu baru, aku mau pembantuku yang aku sayang. Aku berbuat sejadi-jadinya, barangkali aku berpikir jika pembantu baruku pergi pembantu lama akan kembali), sampai kemudian aku menjadi akrab dengannya.

Tapi kemudian, ia berhenti bekerja pada Ibuku dan datang pembantu baru lagi.

Entah sejak kapan aku sadar, pembantu-pembantu ibuku tidak datang untuk mengurusiku. Mereka datang untuk dibayar. Mereka punya kehidupan mereka sendiri dan aku bukan bagian dari kehidupannya. Aku menjadi mandiri. Aku melupakan semua nama-nama mereka.

Tapi ternyata aku melupakan lebih dari sekedar nama, aku telah melupakan arti dari kedekatan. Hubungan antar manusia menjelma kebutuhan. Aku menjadi sulit percaya dengan ketulusan.  

Entah sejak kapan, aku tidak lagi melihat diriku sebagai seorang yang berharga, yang dicintai dan dibutuhkan. Aku melihat diriku sebagai beban, yang jika aku menghilang akan tergantikan.

Barangkali, aku menjadi lebih pendiam.

Cerita dari Negeri Kinara - Adat Bagus

ADAT BAGUS

Ada ungkapan yang sering kudengar diucapkan Ibuku: “dia adatnya bagus.”

Yang artinya kurang lebih adalah peringatan agar aku maklum atas perilaku si ‘dia’ yang dibilang adatnya bagus. Karena barangkali ia adalah si bagus yang akan menangis meraung lebih dari dua jam jika menginginkan mainan namun tidak dibelikan, sampai terbatuk-batuk dan suaranya serak, atau bahkan muntah, dan masih keras kepala merajuk minta dibelikan mainan. Atau ia adalah si bagus yang akan memaksa ingin memiliki semua mainanku dan jika aku melawan ia akan menggigit tanganku sampai berdarah.

Si adat bagus.

Tentu saja aku tidak terlahir dengan adat bagus, yang barangkali membuat orangtuaku bersyukur. Tapi aku sulit bersyukur, karena tidak memiliki adat bagus artinya aku tidak akan diperlakukan spesial. Si adat bagus boleh berbuat apa saja dan aku tidak boleh. Si adat bagus boleh egois dan kasar, aku tidak boleh. Si adat bagus dan aku boleh bertengkar tapi hasilnya sudah diputuskan sejak sebelum pertengkaran.

Si adat bagus mengajarkan kepadaku ketidak adilan.

Aku tumbuh menjadi seorang yang sangat peka dengan ketidak adilan yang mungkin terjadi, dan membuatku menjadi seorang yang adil. Karena aku telah tahu bagaimana rasanya menatap ketidakadilan yang terjadi di depan mata dan kau tak bisa apa-apa. Aku tidak akan menjadi seorang yang menambahkan lebih banyak ketidakadilan di dunia.

Yang lebih buruk sifatnya boleh lebih dimanja karena mereka menuntut untuk mendapat lebih banyak, sementara yang baik sifatnya bisa menerima apa adanya maka tak perlu diberikan perhatian ekstra.

Bagaimana seorang yang tidak memiliki adat bagus bisa bersyukur karenanya?

Sepupuku yang perempuan adalah si adat bagus. Ia anak satu-satunya dari sepasang yang terlahir setelah sepuluh tahun hubungan pernikahan. Itu pun setelah program pengobatan yang menghabiskan uang tidak sedikit.

Ibuku menyebutnya anak mahal.

Anak mahal adalah si adat bagus yang paling sulit ditangani.

Aku pernah di usir dari rumahnya saat sedang menginap karena aku mengucapkan sesuatu yang ia tidak senang, jam dua dini hari. Ia sedang membangunkanku dan mengajakku bermain pedang, aku menolak karena itu tengah malam dan aku masih mengantuk. Aku meninggalkannya yang terbangun tengah malam dan kini tanpa teman. Ia berteriak marah membangunkan kedua orangtuanya, ia menangis hebat menyuruhku agar keluar dari rumahnya. Karena ia tidak sudi aku melanjutkan tidurku disana. Ia mengusirku saat itu juga. Ibunya berusaha menenangkannya sebentar namun ia berteriak-teriak makin  keras, Ayahnya menggenggam tanganku dan membawaku keluar. Ia mengantarku pulang malam itu juga dengan sepeda motornya.

Aku menurut dengan bingung dan kalut. Aku diantar pulang masih mengenakan piyama. Aku mengenakan jaket kebesaran milik ayahnya karena sepupuku tidak rela aku meminjam barangnya. Barang-barangku dirapihkan dengan buru-buru oleh ibunya ke dalam tasku dan diserahkan padaku. Tapi ada beberapa yang tertinggal dan tidak pernah aku minta kembali.

Malam itu barangkali aku menangis tanpa suara sepanjang perjalanan menuju rumahku. Dalam hatiku aku tahu aku tidak pantas diperlakukan seperti itu. Tidak ada yang menanyakan apa perasaanku atau apa yang sebenarnya terjadi padaku. Barangkali, mereka pikir anak kecil tidak akan banyak berpikir.

Ayahnya membunyikan bel di rumahku beberapa kali sampai ayahku keluar dengan bingung melihatnya dan diriku berada di luar pagar di tengah malam. Ayahnya meminta maaf dan menceritakan kejadiannya secara singkat kepada ayahku.

Katanya, “yah, namanya juga anak-anak.”

Barangkali ia lupa, aku juga masih anak-anak.

Ayahku memelukku setelah masuk rumah dan mengelus kepalaku sambil berkata, “tidak apa-apa.”

Ia membiarkan aku tidur dengannya malam itu.


Adat bagus boleh membuat keributan pada jam dua pagi dan semuanya akan menuruti kehendaknya.

Cerita dari Negeri Kinara - Rumah

Untuk para Ibu yang di kakimu terletak surga
Aku mengerti membesarkan anak tidak mudah
Tapi kau bisa setidaknya berusaha

RUMAH

Aku tidak pernah benar-benar tahu mengapa aku jarang di rumah. Sejak aku bisa mengingat dengan jelas aku telah mengingat lebih banyak momen di luar rumah daripada di dalam rumah. Barangkali karena Ibuku sering marah-marah. Tapi Ibu mana yang tidak sering marah?

Kata orang dulu, anak yang tidak berkawan menjadi jahat dan egois. Aku tentulah anak yang baik dan selalu berbagi, karena kawanku begitu banyak lebih dari apa yang bisa dihitung jari. Aku berkawan mulai dari anak-anak tetangga rumah hingga kampung di seberang jalan yang bersisian dengan rel kereta.

Kadang-kadang, aku bermain di rel kereta. Karena anak-anak mengajakku begitu. Mengumpulkan batu atau menyusuri rel, atau sekedar menyeberang saja. Jika Ibuku tahu ia akan meledak marahnya dan tinggi suaranya dalam memakiku sebagai anak yang bodoh dan bandel hingga kupingku pengang.

Aku tahu ia marah karena khawatir aku barangkali terjatuh saat ada kereta melintas dan tertabrak hingga isi perutku terburai di rel besi (aku tahu, karena ia mengucapkannya begitu). Tapi ia sulit mengerti bahwa aku bermain di rel kereta karena kawanku mengajakku begitu. Dan setelahnya, setelah aku ketahuan dan dimarahi hingga kupingku pengang, jika mereka mengajakku lagi aku pasti akan setuju untuk bermain di rel kereta lagi. Karena mereka kawanku.

Tapi barangkali, karena pada saat itu, kawanku telah menjadi lebih berharga daripada Ibuku.

--

Barangkali, aku telah jengah dengan rumahku yang selalu ramai. Karena ada dua kakakku dan ada dua adikku yang kerap bertengkar. Barangkali denganku pun sering bertengkar, tapi aku sering menghindari pertengkaran dan keributan dengan mencari kesenangan berkawan di luar rumah.

Berbeda dengan pertengkaran dengan saudara, pertengkaran dengan kawan jarang melibatkan orang tua (mereka biasanya hanya mengancam, atau kadang mengadu tapi orangtua jarang ambil pusing).

Ibuku jarang ingin ambil pusing untuk menyelesaikan pertikaian adik kakak dengan adil, tapi ia tentu ingin agar keributan selesai dan rumah menjadi kembali tenang. Maka, ia lebih senang memarahi kami semua dan menyuruh yang lebih tua untuk mengalah. Adikku tumbuh menjadi egois dan kurang ajar terhadapku. Ia kasar dan senang melempar barang ke arahku saat bertengkar tanpa peduli apa aku akan terluka karenanya. Pernah suatu hari aku sedang merasa betapa tidak adilnya seorang kakak yang selalu mengalah terlepas dari siapa yang salah. Aku berpikir untuk menyelesaikannya dengan cara yang sama; aku akan memperlakukannya seperti ia memperlakukanku. Maka ketika ia mulai melempar barang ke arahku aku kembali melempar barang ke arahnya. Sampai ia melemparkan gunting ke arahku dan hampir mengenai mata kananku.

Maka aku menjadi sadar, aku telah lebih dulu paham atas konsekuensi dari tindakan. Barangkali ia baru akan menyesal jika melihat mata kakaknya mengucurkan darah dan menjadi buta untuk selamanya. Tapi sebelum itu terjadi tidak terpikirkan olehnya bahwa melemparkan gunting kepadaku adalah hal yang tidak seharusnya dilakukan.

Konsekuensi belum datang kepadanya sebagai pemahaman, ia hanya akan datang kepadanya sebagai kenyataan di kemudian. Tapi ia telah datang kepadaku sebagai pemahaman, maka aku tidak bisa melempar gunting kembali ke adikku.

Sore itu aku telah belajar mengapa seorang kakak seharusnya mengalah.

Aku hanya bisa menahan kekesalan dan menjauhkan diri darinya yang sedang menyunggingkan senyum menang; aku keluar dari rumah dan pergi ke rumah kawan.

Namun, lain waktu saat aku bertengkar dengan kakakku aku menjadi egois sebagai pembalasan karena adikku telah berlaku egois kepadaku. Tapi kakakku adalah anak lelaki, ia tidak bertengkar dengan mulut atau melempar barang karena itu hal yang dilakukan perempuan. Kakakku hanya akan menamparku sekali hingga perihnya dalam sekejap membuat isi kepalaku hening. Lalu panas merayap, membakar pipi dan hati. Mataku akan basah dan air mataku akan jatuh entah karena sakit di pipi atau sakit di hati.

Aku akan menangis mengadu pada Ibuku. Ia akan kemudian memarahi kami berdua dan menyuruhku untuk jangan menganggu kakakku karena itulah yang akan terjadi. Ia tidak menyuruh kakakku untuk mengalah, karena ia tahu kakakku tidak akan mau mengalah. Karena ia keras hati dan ia anak lelaki.

Hal tersebut tidak cukup sekali, tapi berkali-kali sampai kemudian aku menjadi juga belajar dan mengerti. Bahwa di rumah ada aturan yang mudah; yang kuat yang mendapat tempat. Segala aturan lainnya adalah alasan karena barangkali Ibuku tidak sampai hati mengatakan kepadaku bahwa aku harus mengalah kepada adikku karena ia lebih egois, dan harus mengalah kepada kakakku karena ia lebih kuat dan gampang naik darah. Bahwa aku hanya harus selalu mengalah karena aku anak yang baik dan lemah yang lebih mudah ia suruh agar begitu. Agar ada ketenangan dalam rumah, ada penyelesaian dalam pertengkaran.


Barangkali saat itu aku belajar bahwa Ibuku seorang pragmatis. Ia tidak menyelesaikan masalah dengan adil, ia menyelesaikan masalah dengan mudah.